Raja di Atas Awan Baluran

Posted by | Pengamatan | No Comments

Beberapa bulan yang lalu saya menginjakkan kaki untuk kedua kalinya di Taman Nasional Baluran. Tepatnya pada ajang 4th PLN-Baluran Birding Competition, target awal saya tentu saja mendapatkan juara di birdrace kali ini selain karena ini adalah ajang terakhir juga karena pada dua ajang sebelumnya KSBL Pecuk mampu meraih prestasi. Selain target utama tadi saya juga punya target lain yaitu bertemu dengan para raja di atas awan Taman Nasional Baluran. Raja-raja ini adalah anggota famili accipitridae dan falconidae yang ada di Taman Nasional Baluran.

Dari catatan yang ada Taman Nasional Baluran memiliki banyak spesies dari anggota famili accipitridae dan falconidae. Dan pada kesempatan kemarin alhamdulillah saya bertemu dengan 4 diantaranya yaitu Spilornis cheela, Haliaeetus leucogaster, Spizaetus cirrhatus, Microhierax fringillarius. Dari keempatya hanya Spilornis cheela yang sudah pernah bertemu sebelumnya sedangkan emapat lainnya adalah perjumpaan pertama kali.

Spilornis cheela by Memedboulala

Spilornis cheela by Memedboulala

Spilornis cheela speseis elang yang cukup umum dijumpai tidak hanya di Taman Nasional Baluran namun juga di daerah lain. Ciri utama spesies ini adalah kulit kuning tanpa bulu di antara paruh dan mata. Selain itu saat terbang terlihat jelas garis putih pada ekordan pinggir belakang sayap. Elangular Bido sering terlihat teerbang sendirian atau berpasanagan dan soaring terbang  berputar melingkar. Persebaran spesies ini cukup luas meliputi India, Cina, dan Asia Tenggara, sementara di Taman Nasional Baluran dapat dijumpai di hampir semua wilayah. Status keterancaman spesies ini adalah Least Concern (LC).

Haliaeetus leucogaster (italic) by Swiss Winasis

Haliaeetus leucogaster by Swiss Winnasis

Haliaeetus leucogaster memiliki ukuran tubuh yang besar dan sayap yang lebar, dengan warna tubuh dominan putih membuatnya semakin terlihat gagah saat terbang dan yangsaya temui kemarin adalah juvenile. Selain sering ditemukan terbang di atas lautan spesies ini juga sering terlihat bertengger di puncak pohon di pinggir pantai atau perairan. Haliaeetus leucogaster biasa membuat sarang di puncak pohon-pohon tinggi dari cabang dan ranting yang kuat. Di Taman Nasional Baluran elang ini bisa ditemui di blok Gatel dan Bama. Persebaran global dari spesies ini meliputi India, Asia Tenggara, samapiai Australia, status keterancamannya adalah Least Concern (LC).

Spizaetus cirrhatus (italic) fase gelap by Swiss Winnasis

Spizaetus cirrhatus fase gelap by Swiss Winnasis

Spizaetus cirrhatus adalah salah satu raja di atas awan Taman Nasional Baluran yang unik karena memilki 3 fase warna bulu yaitu fase gelap, fase terang, dan fase peralihan. Spesies ini mempunyai habitat mulai dari padang rumput, hutan, perkenbunan dan umumnya hidup di daerah berketinggian di bawah 1500 dpl. Di Taman Nasional Baluran sering ditemui di blok Batangan, blok Bekol, Blok Bama, dan blok Gatel. Sementara persebaran globalnya meliputi India dan Asia Tenggara, status keterancaman adalah Least Concern (LC).

Microhierax fringillarius (italic) by Swiss Winnasis

Microhierax fringillarius by Swiss Winnasis

Microhierax fringillarius merupakan anggota raptor dengan ukuran terkecil (15 cm) atau kira-kira sebesar Cucak Kutilang. Walaupun ukurannya kecil namun burung ini tetap saja burung pemangsa. Spesies ini dapat ditemui di hampir seluruh Taman nasional Baluran, biasa ditemui saat bertengger di ranting pohon yang sudah mengering. Persebaran global meliputi Semenanjung Malaya dan Sunda Besar. Status keterancamannya adalah Least Concern (LC).

Anggota famili Accipitridae dan Falconidae lainnya yang ada di Taman Nasional Baluran antara lain Circaetus gallicus, Ictinaetus malayensis, Elanus caeruleus, Accipiter soloensis, Accipiter trivirgatus, Falco peregrinus, Falco moluccensis, dan Sang GARUDA Spizaetus bartelsi. Mari kita jaga agar para raja ini tetap berada di singgasananya di atas awan baluran, karena jika keberadaan mereka terganggu berarti dapat dipastikan keadaan di bawahnya juga terganggu. Semoga ada kesempatan lagi untuk menginjakkan kaki di Africa van Java dan bertemu dengan para raja lainnya.

Salam Lestari

Salam Konservasi

Vivat Pecuk!!

Bersenang-senang

@alfanielevent

img_6704

Kampus Perjuangan Kampus Konservasi

Posted by | Renungan | One Comment

Siapa yang tidak tahu ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) dewasa ini, sebuah kampus yang mewarisi semangat juang pahlawan 10 Nopember. Sebuah kampus yang menjadi pintu gerbang pengembangan Indonesia Timur dan sebuah kampus yang berada di kota  terbesar kedua di Indonesia yaitu Surabaya. ITS dikenal sebagai kampus teknologi dengan berbagai macam riset, pengembangan, dan produk teknologi yang telah dihasilkan oleh putra-putri terbaik bangsa yang digembleng di dalamnya.

Namun kali ini kita akan mencoba melihat ITS dari sisi lain yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Letak geografis ITS yang berada di dekat pantai timur Surabaya mengakibatkan beberapa lokasi berupa rawa-rawa atau lahan basah. Kondisi semacam ini selain dimanfaatkan sebagai tempat menanam padi dan beberapa jenis sayuran juga digunakan oleh beberapa spesies hewan seperti mamalia dan burung sebagai habitat atau tempat tinggalnya. Bahkan beberapa diantara spesies burung yang ada di ITS termasuk spesies burung yang dilindungi oleh Undang-Undang karena teancam punah.

Menyikapi hal ini pihak ITS mulai gencar mengkampanyekan kegiatan konservasi melalui kegiatan Eco Campus sejak tahun 2011. Kegiatan yang dilakukan untuk mendukung program Eco Campus ini antara lain G2 (Gugur Gunung), release beberapa spesies burung di lingkungan kampus, serta pemasangan papan peringatan wilayah konservasi. KSBL Pecuk juga ikut berpartisipasi dan berkontribusi dalam program Eco Campus khususnya pada kegiatan release beberapa spesies burung engan memberikan saran dan masukan mengenai spreies burung apa yang cocok untuk dilepaskan di lingkungan ITS, pembatasan pelepasan burung, dan penyiapan burung sebelum dilepaskan ke alam.

Papan peringatan wilayah konservasi

Papan peringatan wilayah konservasi

Beberapa lokasi di ITS yang menjadi habitat dari spesies-spesies burung antara lain blok taman alumni, blok hutan kampus, blok asrama mahasiswa, blok FMIPA, belakang NASDEC dan Robotika. Dari beberapa lokasi tersebut menurut penelitian terbaru tercatat ada sekitar 81 spesies burung (baca: Biodeversitas @ITS). Jumlah yang cukup banyak dan sangat disayangkan jika burung-burung tersebut harus tersisih karena ulah tangan kita.

Kampus teknik tidak hanya bisa bicara masalah teknologi dan pengembangannya tetapi juga harus bisa berbicara tentang konservasi dan pelestarian lingkungan serta segala sesuatu yang ada di dalamnya. Mari kita jaga bumi ini dengan sepenuh hati karena sejatinya kita di tempatkan di bumi ini adalah sebagai penjaga (khalifah) bukan sebaliknya malah merusak demi kepentingan kita pribadi. Let’s save our earth, save bird, and they‘ll save us..!!!

Salam Lestari

Salam Konservasi

Vivat Pecuk..!!

Bersenang-senang

@alfanielevent

Sebuah Catatan Dari Puncak 15

Posted by | Tulisan | No Comments

            Waktu menunjukkan Pukul 15. 29 saat aku menginjakkan kaki di Puncak 15 (Lantai 3,5 Biologi). Tidak begitu tinggi memang jika dibandingkan dengan gedung-gedung lain di ITS, namun disinilah salah satu tempat favoritku. Matahari masih cukup tinggi di sebelah barat walaupun sedikit tertutup awan. Dari Puncak 15 terlihat dengan jelas hijaunya hutan kampus ITS di sebelah barat  dan disanalah kami (KSBL Pecuk) biasa melakukan pengamatan. Di sebelah timur terlihat pohon Trembesi (Samanea saman) yang besar dan rimbun. Di sebelah utara terlihat deretan pohon Angsana (Pterocarpus indicus). Sedangkan disebelah timur terdapat sebuah kolam yang biasa disebut sebagai kolam statistika oleh anak ITS.

Matahari sore dari Puncak 15

Matahari sore dari Puncak 15

            Sore ini kicauan Cucak Kutilang, Remetuk Laut, Cipoh Kacat, dan Madu Sriganti tidak seramai biasanya. Sore hari seperti ini biasa kami habiskan untuk bersantai di Puncak 15 melepas penat setelah seharian kuliah dan tentunya sekalian birdwatching. Di Puncak 15 ini ada dua spot untuk birdwatching yaitu pohon Trembesi di sebelah selatan dan deretan pohon Angsana di sebelah utara.

              Pohon Trembesi di sebelah utara adalah tempat yang tepat jika kita ingin melihat Cucak Kutilang, Madu Sriganti, Remetuk Laut, dan Cipoh Kacat. Tidak jarang juaga Tekukur Biasa, Perkutut Jawa, dan Sepah Kecil mampir di pohon satu ini. Yang jelas penguasa utama pohon ini adalah Cucak Kutilang karena setiap saat pasti dia ada di pohon ini entah dalam jumlah sedikit ataupun banyak. Sedangkan deretan pohon Angsana di sebelah utara adalah tempat yang tepat jika kita ingin melihat Punai Gading. Setiap sore mereka akan bertengger di tajuk-tajuk tertinggi pohon ini. Mereka biasanya datang secara berkelompok terbang dari arah selatan 10 sampai 12 ekor dengan 1 atau 2 jantan. Punai Gading adalah salah satu dari spesies burung yang banyak ditemukan di Kampus Perjuangan ini selain Cucak Kutilang dan Burung Gereja.

             Selain dua spot tadi tidak jarang juga terlihat Cangak Laut, Kuntul Kecil, Blekok Sawah, Pecuk yang sedang terbang menuju ke arah Wonorejo. Sore ini sembari menuliskan artikel ini cukup banyak burung yang aku temui diantaranya sekitar 15 ekor Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) , 25 ekor Punai Gading (Treron vernans), 6 ekor Sepah Kecil (Pericrocotus cinnamomeus), 10 ekor Walet Linchi (Collocalia linchi), dan 1 ekor Blekok Sawah (Ardeola speciosa).

               Matahari semakin rendah dan cahaya merahnya tampak indah sekali meghiasi langit sore Kampus ITS. Sebuah catatan singklat dari Puncak 15 semoga bisa menambah semangat kita untuk lebih mencintai dan melestarikan burung serta habitat alaminya terutama di Kampus tercinta ini dan di lingkungan sekitar teman-teman masing-masing. Selamatkan burung maka selamatlah manusianya.

Vivat Pecuk

Bersenang-senang

@alfanielevent

Proklamasi Kebebasan Burung Di Hari Kemerdekaan RI..!!!

Posted by | Renungan | No Comments

Pagi yang indah, tanggal 17 Agustus 2013 di ITS Surabaya.

DSCN9622

Gambar 1. Sang Pusaka Berkibar di Angkasa

Sepanjang jalan menuju kampus ini terlihat sepi, relatif sangat lengah dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Setiap jamnya mungkin tidak lebih dari 10 kendaraan bermotor yang melewati jalan ini. Maklum, hari itu adalah tanggal merah dan merupakan waktu yang bersejarah bagi INDONESIA dalam menunggu detik-detik proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan akademik kampus libur, kecuali untuk mahasiswa baru yang sedang mengikuti kegiatan training kepribadian di Graha. Sedangkan sebagian kecil mahasiswa tingkat akhir yang akan wisuda (termasuk saya)  masih disibukkan dengan aktifitas tes TOEFL di belakang Graha, yaitu di UPT Bahasa. Sedangkan karyawan dan dosen mengikuti upacara 17 Agustus yang terpusat di depan Perpustakaan ITS. Semua kegiatan yang berlangsung pada tanggal 17 Agustus terpusat di ketiga tempat tersebut.

Sudah diputuskan sebelumnya, bahwa setelah tes TOEFL saya akan melakukan pengamatan di kampus. Dengan membawa peralatan sederhana, yaitu kamera dan alat tulis, saya memulai dengan menjelajah setiap area hijau, menyusuri lorong-lorong bangunan, dan mengunjungi terakhir mengunjungi hutan kampus.

Pengamatan diawali pada pukul 07.30 dari pintu portal asrama menuju area kampus.

Gambar 2. Burung Cucak Kutilang

Gambar 2. Burung Cucak Kutilang

Suara burung Kutilang yang begitu merdu dan sangat ramai menyambut semangat pagi.

Daun-daun berguguran dengan cuaca yang begitu cerah membuat suasana menjadi romantis.

Teriring angin sepoi-sepoi pada bagian lorong-lorong bangunan.

Satu persatu, burung-burung menampakkan dirinya.

Tidak sekedar menunjukkan tubuhnya yang molek tapi juga suaranya yang begitu merdu.

WOW… Hari Kemerdekaan RI adalah Proklamasi Kebebasan Burung.

Pycnonotus aurigasterPycnonotus goiavierStretopelia chinensisGeopelia striataAegithina tiphiaCorvus macrorhynchosNectarinia jugularisTodirhampus chlorisCollocalia linchiHirundo tahiticaEgretta garzetta, Gerygone sulphurea, Passer montanus, Centropus sp., Lonchura punctulata, Lonchura maja, Lonchura leucogastroides, Prinia inornata, Pericrocotus cinnamomeus

Meskipun berdasarkan hasil pengamatan, jenis-jenis burung yang dijumpai termasuk burung yang umum dan tidak memiliki status keterancaman. Akan tetapi, KEBEBASAN pada hari libur nasional ini menjadikan jenis-jenis burung tertentu lebih sering terlihat dijumpai beraktifitas diatas permukaan tanah dibandingkan bertengger di ranting-ranting pohon, misalnya adalah burung Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster).

Pada saat aktifitas manusia di kampus sedang sibuk-sibuknya dengan kendaraan yang wira-wiri, burung Cucak Kutilang lebih sering teramati beraktifitas di bagian tajuk. Namun, ketika kondisi sedang sepi, burung ini sering beraktifitas di atas permukaan tanah bahkan lantai-lantai bangunan. Hal ini diduga dipengaruhi oleh kondisi kampus yang sangat sepi dari aktifitas manusia karena berkaitan dengan libur semester dan kebetulan bersamaan dengan libur lebaran. Sedikitnya aktifitas manusia diduga menjadi penyebab kebebasan burung dalam beraktifitas.

VIVAT PECUK…!!!

(che/09.704)

Tak Dapat Juara pun Kami Masih Punya Cerita

Posted by | Tulisan | 7 Comments

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 26 – 30 Juni 2013 berlangsung satu event besar tahunan bagi seluruh pengamat burung Indonesia, termasuk KSBL PECUK tentunya. Pada tahun ini, ada dua kelas (jenis lomba :red), fotografi dan tentu pengamatan burung. Khusus pengamatan burung, ada satu hal yang jelas berbeda dan menarik bagi kami (khususnya bagi saya :penulis), untuk bedanya ini kami sampaikan nanti di bawah, sabar yee J. Semangat kami tinggi untuk berangkat, apalagi ada selentingan kabar bahwa event kali ini adalah yang terakhir atau lebih tepatnya tidak ada lagi tahun depan (break sebentar).

Gambar 1. Pasukan Khusus KSBL Pecuk

Gambar 1. Pasukan Khusus KSBL Pecuk

                Berangkat sekitar pukul 23.00 dari jurusan biologi ITS, rombongan berangkat menggunakan bus kecil (kira-kira muat 25an orang lah…) untuk menempuh perjalanan menuju Taman Nasional Baluran. Seperti beberapa tahun terakhir, dalam kegiatan semacam ini, kami tidak hanya melibatkan anggota KSBL PECUK saja, melainkan juga non anggota pecuk, khususnya mahasiswa biologi ITS sendiri. Berangkat dengan 8 tim, total 24 orang, 7 orang dari anggota pecuk sedangkan yang lainnya teman-teman non pecuk. Di Bungurasih, ada 2 orang pengamat burung dari Jogja yang ikut bersama rombongan kami (yang katanya ketinggalan kereta :P). Segala persiapan sudah dilakukan, diantaranya pengamatan bersama, belajar bersama, quis dan lain – lain , khususnya buat non anggota pecuk biar kami sama–sama siap. Sampai di TN Baluran, kira–kira jam 7 pagi (berarti ±7 jam perjalanan), kami termasuk rombongan yang terakhir kali datang. Alhamdulillah….

Biologi ITS

Gambar 2. Rombongan Delegasi Biologi ITS di 4th Annual Baluran PLN Birding Competition

                Seperti yang kami sampaikan di atas, event ini ada 2 kategori lomba yaitu fotografi dan pengamatan burung. Tapi kali ini kami hanya berpartisipasi d kategori pengamatan burung saja. Nah, disini yang beda dan menarik, kalau biasanya lomba pengamatan burung disajikan dalam identifikasi, sketsa, deskripsi dan cenderung pada banyaknya hasil burung yang ditemukan, lengkapnya deskripsi maupun indah nya sketsa. namun, pada lomba ini disajikan dalam bentuk ARTIKEL. Artinya, kemampuan menulis dan menceritakan hasil pengamatan lah yang bakal dinilai. Memang jenis artikelnya adalah semi ilmiah, tapi benar–benar tidak bisa dianggap sesuatu yang mudah (khususnya bagi saya :penulis). Bagus memang, kreatif, dan lebih membutuhkan daya imajinasi dan kreatifitas yang tinggi. Menuliskan hasil pengamatan burung, berdasarkan topik yang dipilih, berdasarkan semua yang diamati (selama 2 hari, tanggal 27–28 Juni), bukan hanya identifikasi burung dan sketsa saja. Tapi juga data pengamatan lain, misalnya perilaku burung, vegetasinya, karakter burung dan semuanya yang diamati dan dilakukan peserta pada saat pengamatan burung. Semuanya dituangkan dalam sebuah TULISAN. Luar biasa! Memang! Dan sekali lagi saya (penulis) merasa ‘dicambuk’ berkali–kali kalau “Menulis itu Penting”, meskipun hanya sebatas artikel populer saja, meskipun bukan tulisan yang cukup baik isinya. Konsep, ide, maupun gagasan bahkan mimpi dan cita–cita bukan apa–apa, atau akan menjadi sekedar angan–angan saja tanpa manfaat yang lebih kepada orang lain. Saya kira ini, salah satu oleh – oleh yang sangat berharga bagi saya.

Ada satu pernyataan yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran saya hingga saat ini yang disampaikan oleh pak Baskoro, “membuat paragraf itu jangan sampai membunuh si pembaca”. Rasanya saya pengen sekali-kali membuat sebuah paragraf yang AMAT SANGAT PANJANG SEKALI dalam artikel ini. Tapi, ndak wes… kasihan anak kecil yang membaca, bisa-bisa nangis semuamembaca tulisan ini.

Gambar 3. Menulis itu Penting

Gambar 3. Menulis itu Penting

Selain pelajaran besar soal menulis, ada lagi hal yang kami dapatkan diantaranya 2 materi tambahan dengan topik “Fotografi dan Menulis”. Selanjutnya, tepat tanggal 29 Juli 2013 pada malam hari, sejarah tercipta. Tepat setelah materi “Menulis” oleh pak Karyadi Baskoro, KSBL PECUK yang pada saat itu dikomandani oleh Mbak Nur Sita Hamzati dan Mbak Citra Fitrie R bersama beberapa kawan pengamat burung yang lain mempelopori sebuah forum atau isitilah kerennya “cangkrukan” bersama semua pengamat burung dan panitia yang ada disana, hal ini salah satunya didorong kepedulian terhadap pentingnya event bagi para pengamat burung umumnya, dan khususnya bagi perkembangan TN Baluran. Apalagi tersiar kabar bahwa Event birding competition yang ‘katanya’ tahun 2013 ini adalah tahun terakhir sebelum nanti dilanjutkan lagi entah tahun berapa. Satu hal yang luar biasa tentu saja, dan ‘menggelitik’ hati. Di forum ini banyak yang dibicarakan dan didiskusikan, khususnya terkait masa depan event ini. Dari forum ini dihasilkan beberapa hal, diantaranya akan diadakannya “Pertemuan Pengamat Burung Indonesia 2013” kira-kira pada akhir bulan Agustus-Awal September (28 Agustus – 1 September 2013).

                Ini sedikit yang bisa kami bagikan, memang KSBL PECUK tidak meraih juara (kami ucapkan selamat pada para pemenang!) tapi bagi kami kegiatan ini tidak hanya soal juara, tapi ilmu pengalaman dan manfaat untuk orang lain yang lebih penting. Dari mulai pelajaran berharga soal pentingnya menulis, hingga satu gebrakan (mempelopori ‘cangkrukan’ di atas) hingga akhirnya mendapat beberapa hasil dan tetap terjaganya persaudaraan dan semangat para pengamat burung untuk tetap bergerak dan melanjutkan konservasi burung melalui berbagai kegiatan meskipun dalam komunitas pengamat burung di dalam kampus. Terima kasih dan semoga bermanfaat ! “bersenang – senang….!” (Albi)

“LEA” Tangisan Bayi Dari Pulau Flores

Posted by | Pengamatan | No Comments
Camera 360

Gambar 1. Sketsa Lea (Corvus florensis)

        Lea merupakan sebutan masyarakat lokal di pulau Flores pada seekor burung berwarna hitam, berparuh tebal dan bersuara pendek, keras dan serak seperti suara bayi menangis “lea..lea..lea…”. Mungkin atas dasar suaranya seperti itu, sehingga masyarakat lokal Flores menyebutnya Lea. Padahal nama ilmiah dari burung ini adalah Corvus florensis atau Gagak Flores (anggota famili Corvidae). Secara umum burung ini mirip dengan Ka (sebutan masyarakat lokal Flores dari jenis Corvus macrorhynchos), hanya ukurannya yang lebih kecil (40 cm) dibandingkan dengan Ka.

          Lea merupakan salah satu jenis burung endemik yang hanya di temukan di dataran rendah Pulau Flores bagian barat (Birdlife International, 2001) dan Pulau Rinca (Trainor in litt, 2007 dalam IUCN redlist, 2013). Berdasarkan persebarannya menurut Birdlife International (2001), Lea dapat dijumpai di hutan basah yang rusak dan semi luruh daun yang ketinggiannya tidak lebih dari 950 meter di atas permukaan laut. Selain itu, berdasarkan laporan dari Trainor (2000) burung ini dapat ditemukan di dalam hutan, pinggiran hutan serta sering ditemukan diluar hutan. Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Burung Indonesia beserta dua mahasiswa pada bulan Juli hingga Agustus 2012 lalu, Lea ditemukan di Desa Golomori dan Warloka hal ini berarti menunjukkan bahwa persebarannya hingga saat ini masih terdapat Flores bagian barat.

Persebaran Flores

Gambar 2. Persebaran Lea di Flores (Rudyanto, 2001)

         Setiap kali perjumpaan, burung ini hanya berjumlah satu individu dengan perjumpaan yang relatif jarang. Bahkan kadang hanya terdengar suaranya yang seperti tangisan bayi, “lea…lea..”. Burung ini merupakan burung terestrial yang beraktifitas di bagian kanopi dan subkanopi. Di Flores   bagian barat, burung ini dijumpai di kaki bukit savana, hutan hujan bahkan  di sekitar permukiman penduduk. Masyarakat di Golomori dan Warloka, juga banyak yang mengenal dan mengetahui burung ini. Berdasarkan informasi dari Kutilang Indonesia (2012), musim berbiak terjadi dari bulan September sampai Januari. Sarang terbentuk dari jalinan ranting yang diletakkan pada pohon dengan ketinggian sarang sampai 12 m dari permukaan tanah. Jumlah telur 2-3 butir.

http://www.xeno-canto.org/browse.php?species_nr=&query=Corvus+florensis

          Pulau-Pulau di Nusa Tenggara, seperti Flores memiliki hutan yang sedikit, dan cenderung didominasi oleh savana yang berbukit-bukit. Hutan luruh daun biasanya hanya terdapat di kaki savana dengan kondisi yang terancam rusak. Rusaknya hutan disebabkan oleh penggundulan hutan dan peningkatan lahan untuk pertanian (Birdlife International, 2001). Meskipun, Lea cukup toleran terhadap degradasi hutan sebagai tempat untuk beraktifitas. Namun secara tidak langsung Lea membutuhkan habitat untuk meletakkan sarang-sarangnya pada pohon-pohon yang besar. Jika semakin lama, pohon-pohon yang berpotensi sebagai sarang bagi Lea ditebang, maka secara otomatis Lea akan kehilangan habitat sebagai tempat bersarang. Dan secara otomatis, jumlah populasi Lea pun akan semakin menurun.

         Mulai tahun 1994 hingga 1996, Lea dikategorikan sebagai jenis yang status keterancamannya Vulnarable (rentan) menurut IUCN. Kemudian, pada tahun 2000, terjadi penurunan populasi Lea sehingga status keterancamannya naik menjadi Endangered (terancam) hingga saat ini. Faktor penurunan populasi Lea disebabkan oleh degradasi habitat akibat penggundulan hutan dan peningkatan lahan untuk pertanian (Birdlife International, 2001).

DAFTAR PUSTAKA

BirdLife International (2001) Threatened birds of Asia: the BirdLife International Red Data Book. Cambridge, UK: BirdLife International

BirdLife International 2012. Corvus florensis. In: IUCN 2012. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2012.2. <www.iucnredlist.org>. (19 June 2013)

Kutilang Indonesia. 2012. Gagak Floreshttp://www.kutilang.or.id (19 Juni 2013)

Trainor, C., Prayitno, W., Lesmana, D., Gatur, A. 2000. Mencari Masa Depan. PKA/Birdlife Indonesia Programme/WWF Indonesia. Jakarta/Bogor

sumber rekaman suara Gagak Flores : http://www.xeno-canto.org/browse.php?species_nr=&query=Corvus+florensis

—Che_704—

Happy Bird Day for World Migratory Bird Day

Posted by | Kegiatan | No Comments

DSCN9832

Peringatan Hari Migrasi Burung sedunia (World Migratory Bird Day) diadakan setiap setahun sekali di seluruh dunia, diadakan sekitar pertengahan bulan Mei. Tahun lalu, KSBL Pecuk bekerja sama dengan para komunitas pengamat burung di Surabaya (Peksia Himbio Unair dan KMPV Kirik-Kirik FKH Unair) mengadakan pameran foto dan sosialisasi pengamatan burung di Wonorejo. Akan tetapi, pada peringatan kali ini pengamat burung Surabaya mengadakan kegiatan di dua lokasi yang berbeda, pada tanggal 11 Mei 2013, Peksia Himbio Unair, Srigunting Unesa dan KMPV Kirik-kirik FKH Unair mengadakan pameran foto di Kebun Binatang Surabaya, sedangkan KSBL Pecuk Biologi ITS mengadakan sosialisasi pengamatan burung bagi anak-anak Ujung Pangkah pada tanggal 12 Mei 2013.

Ujung Pangkah merupakan salah satu jalur migrasi bagi burung. Pada setiap musim migran, mungkin akan terlihat ribuan burung pengembara yang melintas bahkan akan singgah di tempat ini. Di daerah mudflat yang terdapat di muara sungai Bengawan Solo menjadi lokasi mencari makan bagi burung-burung pengembara ini. Mengingat bahwa Ujung Pangkah merupakan kawasan IBA (Important Bird Area) maka KSBL Pecuk mengembangkan jejaring untuk meningkatkan kepedulian masyarakat Pangkah Wetan untuk peduli terhadap kelestarian burung dan habitatnya.

Foto Bersama WMBD 2013

Kegiatan WMBD di Ujung Pangkah terselenggara atas kerjasama masyarakat desa Pangkah Wetan dan KSBL Pecuk. Sasaran dalam kegiatan ini adalah anak-anak TK beserta guru pendamping  yang terdapat di Desa Pangkah Wetan. Sosialisasi mengenai burung diikuti oleh anak-anak dari TKM NU Muniroh 1, TKM NU Muniroh 2, TKM NU Muniroh 3, dan TK ABA Pangkah Wetan, serta guru pendamping (bahkan banyak orang tua yang ikut hadir dalam acara tersebut).

pengamatan burung

Secara keseluruhan, kegiatan yang dilakukan di Ujung Pangkah ini berupa sosialisasi tentang burung, pameran foto, pengamatan burung bagi anak-anak TK di Desa Pangkah Wetan serta lomba mewarnai burung. Pengenalan terhadap jenis-jenis burung dengan menggunakan alat bantu pengamatan (binokuler, monokuler dan field guide) merupakan metode dasar untuk menarik perhatian bagi anak-anak. Meskipun panasnya terik matahari cukup menggelapkan kulit, tetapi semangat anak-anak TK Ujung Pangkah ini sangat luar biasa.

Antusias dan keberhasilan dari pengenalan burung dapat dilihat dari kuis yang diberikan. Pertanyaan seputar burung yang ditemukan pada waktu pengamatan, burung yang paling sering ditemui, dan lain sebagainya. Untuk para peserta yang berhasil menjawab diberi doorprise. Akan tetapi, karena semua anak kecil biasanya suka diberi hadiah, maka panitia pun sudah menyiapkan doorprise khusus bagi semua anak.

proses mewarnai

Untuk memvisualisasikan keindahan burung di alam, maka kegiatan ini ditambahkan dengan lomba mewarnai untuk anak-anak TK. Dari semua hasil, hanya ada 2 anak yang mewarnai burung kutilang yang hampir sesuai warna aslinya, dan hanya ada 1 anak yang sesuai mewarnai burung gereja sesuai warna aslinya. Kerapian, kombinasi warna dan kreatifitas menjadi diutamakan dalam lomba mewarnai ini. Sehingga diperoleh 3 juara, dan 5 juara harapan dari hasil lomba mewarnai ini (semoga hadiah yang diberikan dapat bermanfaat bagi generasi penerus bangsa). Di akhir acara, ditutup dengan foto bersama antara panitia dan anak-anak Ujung Pangkah 🙂

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dalam kegiatan ini, tetapi ada satu hal yang sangat luar biasa di suatu saat nanti. Sebuah harapan besar kami terhadap anak-anak Ujung Pangkah, agar nantinya mereka dapat menjadi generasi penerus yang peduli terhadap kelestarian burung dan habitatnya, terutama di lingkungan sekitar mereka.

Hasil Mewarnai Anak TK Ujung PAngkah

Hasil Mewarnai Anak TK Ujung PAngkah

VIVAT PECUK..!!!

Eksotika Kebun Binatang Surabaya

Posted by | Pengamatan | 2 Comments

Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang dulunya merupakan Kebun Binatang tersohor se-Indonesia hingga se-Asia Tenggara, pernah menyandang predikat sebagai kebun binatang yang terlengkap se-Asia Tenggara pada era 1970-an pada masa pengelolaan di bawah Pemerintah Belanda. Yang didalamnya di isi oleh lebih dari 351 spesies satwa yang berbeda jenisnya dan terdiri lebih dari 2.806 individu macam binatang, baik itu satwa langka Indonesia maupun dunia yang terdiri dari Mamalia, Aves, Reptilia, dan Pisces.

KBS

Kebun Binatang ini pertama kali didirikan berdasar SK Gubernur Jenderal Belanda pada tanggal 31 Agustus 1916 No. 40, yang awalnya mempunyai nama dalam bahasa Belanda “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” yang memiliki arti (Kebun Botani dan Binatang Surabaya). Berdirinya Kebun Botani dan Binatang ini atas jasa seorang jurnalis bernama H.F.K. Kommer yang memiliki hobi mengumpulkan binatang dan di dukung oleh beberapa orang penyandang dana.

Memang pada saat itu KBS mengalami perkembangan dan bertambahnya satwa, namun sekarang apa yang ada di benak kita tentang Kebun Binatang Surabaya saat ini sangatlah berbeda dengan yang terjadi di masa lampau. Semua citra baik itu tertutupi dengan hal buruk yang selama ini terjadi dengan satwa di Kebun Binatang tersebut.  Pada awalnya KBS menjadi percontohan bagi Kebun Binatang lainnya, namun sekarang sudah berbeda, KBS lah yang harus mencontoh Kebun Binatang yang lainnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari pengelola Kebun Binatang Surabaya menunjukkan bahwa sekitar 130 satwa mati dalam sembilan bulan terakhir, terutama karena serangan penyakit dan kurangnya sarana yang memadai dan tenaga perawat satwa yang berkualitas. “Kematian satwa itu, yang paling pertama karena sudah tua. Kedua karena penyakit, dan ketiga karena sarana prasarana kandang yang kurang memadai, mengakibatkan penyakit mudah muncul, akhirnya penyakit tersebut mudah menular. Keempat, sumber daya manusia di sini kurang (berkualitas),” ujar Tonny Sumampau, Ketua Harian Tim Pengelola Sementara Kebun Binatang Surabaya.  Pernyataan tersebut dikutip dari voaindonesia pada tanggal 11/09/2012.

Diusia 96 tahun,  begitu banyak masalah yang dihadapi oleh pengurus Kebun Binatang Surabaya (KBS), belum lagi masalah sengketa lahan dan pengelolaannya yang diperebutkan oleh dua dinas pemerintahan sampai saat ini masih belum pasti.

Ketua Tim Pengelola Sementara KBS, Hadi Prasetyo, mengatakan bahwa saat ini Kebun Binatang Surabaya masih memiliki 4.020 ekor satwa dari 220 spesies. Padahal, dengan luas dan jumlah kandang yang ada, seharusnya kebun binatang itu maksimal menampung 3 ribu binatang saja. Artinya, ada kelebihan populasi sampai seribu satwa. “Seribu ekor ini ya harus dipindahkan, tapi memindahkanya juga tidak gampang,” kata Hadi.

Akibat penurunan kualitas tersebut maka Kebun Binatang Surabaya juga harus menerima konsekuaensi yang harus ditanggung, berupa penurunan pengunjung dari tahun ketahun dan akan berpengaruh juga pada finansial yang diperoleh dari penjualan tiket masuk.

KBS1

Akibat dari konflik – konflik yang tak kunjung selesai, citra yang kemudian timbul di masyarakat ialah bahwa KBS sudah tidak bagus lagi dan tidak terurus. Mulai dari kepengurusan yang tidak jelas hingga hewan – hewan yang mati. Dilihat dari data jumlah pengunjung yang menurun cukup drastis setahun terakhir, terhitung dari tahun 2009 – 2010. Dilihat dari grafik pengunjung, pada tahun 2009 mencapai angka 1,596,499 pengunjung/tahun, sedangkan di tahun 2010, pengunjung mengalami penurunan pada angka 1,288,336 pengunjung/tahun6. (Kuncoro, 2012)

KBS2

 

Hasil survey pengunjung yang berkunjung ke KBS (Kuncoro, 2012)

Hasil survey terhadap minat anak – anak untuk berkunjung ke KBS menunjukkan bahwa didapatkan sebanyak 38% dari anak – anak cukup sering berkunjung ke KBS, 30% jarang berkunjung, 18% sangat jarang berkunjung & hanya 14% saja yang sering berkunjung, bahkan belum ada anak-anak yang menyatakan sangat sering berkunjung ke KBS. Dari Hasil diatas dapat dilihat bahwa minat masyarakat untuk datang ke KBS sangat rendah pada saat ini.

Berdasarkan data kualitatif dan kuantitatif yang saya dapatkan tersebut saya mencoba untuk berjalan dan melihat-lihat bagaimanakah kondisi KBS sesungguhnya, apakah sama seperti yang dikatakan orang-orang pada saat ini. Selain itu juga mencoba sedikit menginventarisasi burung-burung liar yang ada di area Kebun Binatang Surabaya. Sesudah tiga kali pengamatan yang saya lakukan ternyata menemukan 17 spesies burung liar yang bebas berkeliaran di luar kandang.

No

Nama Spesies

Nama Indonesia

Family

Jumlah

1

Aegithina tiphia Cipoh Kacat Aeghitinidae

4

2

Collocalia Linchi Walet Linci Apodidae

35

3

Bubulcus ibis Kuntul Kerbau Ardeidae

3

4

Egretta garzetta Kuntul Kecil Ardeidae

2

5

Adeola speciosa Blekok Sawah Ardeidae

6

6

Nycticorax ncyticorax Kowakmalam Abu Ardeidae

16

7

Streptopelia chinensis Tekukur Biasa Columbidae

27

8

Dicaeum trochileum Cabai Jawa Dicaeidae

9

9

Lonchura punctulata Bondol Peking Estrildidae

12

10

Halcyon sancta Cekakak Austalia Halcyonidae

4

11

Cinnyris jugularis Burungmadu Sriganti Nectariniidae

12

12

Passer montanus Burung Gereja Passeridae

17

13

Pycnonotus goiavier Merbah cerukcuk Pycnonotidae

2

14

Pycnonotus aurigaster Cucak Kutilang Pycnonotidae

8

15

Glaucidium castanopterum Beluk-watu Jawa Strigidae

1

16

Acridotheres javanicus Kerak Kerbau Sturnidae

24

17

Zosterops palpebrosus Kacamata Biasa Zosteropidae

3

Dilihat dari keberadaan lokasi yang berada di tengah-tengah kota Surabaya, Kebun Binatang ini merupakan salah satu RTH yang cukup luas dan juga dapat membantu menyerap karbon pada kota Surabaya hingga saat ini. (/Metz)

Beberapa foto yang nyantol ke dalam lensa.

Lahan Basah di ITS dan Fungsinya

Posted by | Pengamatan, Renungan | No Comments

Meski terbilang terlambat, musim hujan yang dating ini telah mengembalikan wajah lahan basah di ITS ke keadaanya semula yaitu “basah”. Lahan basah yang ada di ITS antara lain daerah di belakang Stadion ITS, danau 8, rawa di seberang Jurusan Biologi ITS, rawa di belakang Asrama ITS dan masih ada beberapa tempat lainnya.

Sebelum terlalu jauh, mari kita bahas pengertian lahan basah. Lahan basah (wetlands) yaitu daerah rawa, payau, lahan gambut dan perairan, alami atau buatan, tetap atau sementara, dengan air tergenang atau mengalir, tawar, payau atau asin, termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu air surut (Nirarita et al., 1996 dalam Arismaya, 2012). Lahan basah memiliki berbagai fungsi, diantaranya sebagai habitat penting bagi burung air. Keberadaan lahan basah sebagai habitat burung air telah dirumuskan dalam konvensi Internasional Ramsar sebagai suatu kepentingan internasional (Sibuea, 1997 dalam Arismaya, 2012). Jadi jelas bahwa lahan basah sangat berpengaruh terhadap keberadaan burung air, karena bisa dijadikan sebagai tempat menetap ataupun tempat persinggahan burung-burung migran.

Kembali lagi ke topik, lahan basah di ITS telah kembali, dari yang kering pada waktu musim kemarau kini kembali tergenang saat musim penghujan. Fungsi lahan basah terhadap burung juga telah dijelaskan di atas. Baru saja diadakan pengamatan burung di area hutan kampus ITS belakang stadion tepatnya tanggal 19 Desember 2012 dan belakang asrama pada tanggal 21 Desember 2012 , beberapa jenis burung yang ditemukan pada pengamatan pertama antara lain :

  1. Kuntul Kecil
  2. Blekok Sawah
  3. Tikusan
  4. Bambangan (penulis belum mengetahui spesies apa)
  5. Tekukur Biasa
  6. Cucak Kutilang
  7. Bubut Alang-alang

Sedangkan pada pengamatan kedua dibelakang asrama dijumpai :

  1. Kareo Padi
  2. Mandar Batu
  3. Cabe Jawa
  4. Bondol Jawa
  5. Bondol Haji
  6. Bondol Peking
  7. Prenjak (penulis belum mengetahui spesiesnya)

Dari  spesies-spesies burung di atas, beberapa ada yang termasuk burung dengan habitat di lahan basah seperti Kuntul Kecil, Blekok Sawah, Kareo Padi, dan Mandar Batu. Berikut ini tanaman yang sering dijadikan burung sebagai tempat hinggapnya di area lahan basah :

1. Typha sp.

???????

Beberapa ekor Bondol peking (Lonchura punctulata) hinggap di tangkai bunga Typha sp.

2. Enceng gondok

CIMG5551j

Seekor Tikusan (Belum jelas spesies apa) terlihat di tanaman enceng gondok

3. Lamtoro

CIMG5587

Pohon lamtoro juga sering dijadikan sebagai tempat bertengger beberapa jenis burung

4. Bakau

??????????

Di pohon-pohon bakau juga sering terlihat spesies burung yang hinggap, misalnya mandar batu.

Dari sini kita mengetahui bahwa lahan basah sangat penting bagi keberlangsungan hidup burung. Jadi mari kita jaga lahan basah untuk menjaga habitat alami burung- burung juga. Tidak ada burung tidak bagus..

Lampiran : Foto beberapa Lokasi Lahan Basah yang ada di ITS

1. Daerah di belakang stadion ITS

538438_3564529691755_672138854_n2. Daerah di belakang asrama ITS

DSCN05043. Rawa Bakau belakang asrama ITS

DSCN05144. Danau Statistika

IMG_1495

Pustaka : Arismaya, Ayra ;Dahlan; Hery Jamaksari; Zulfikri; Fadila Tamnge. Peranan Kawasan Lahan Basah Bagi Hidupan    Burung Air Di Cagar Alam Rawa Danau. 07 Juni 2012.

Foto : Dokumentasi Penulis

by : @klisonIrung

Ssstt… Bisakah tenang sedikit?

Posted by | Tulisan | No Comments

Berdasarkan sumber yang saya baca Birdwatching adalah sebuah kegiatan pengamatan terhadap burung-burung dengan mata telanjang, dibantu oleh alat pengamatan seperti teropong binokular atau dengan mendengar suara burung. Istilah Bird Watching pertama kali dipakai pada tahun 1901, sedangkan kata bird sendiri mulai digunakan sebagai kata kerja di tahun 1918.

Dari tahun ke tahun telah banyak lomba-lomba Birdwatching yang diadakan, masing-masing dengan ciri khasnya sendiri. Sebenarnya apakah inti dari perlombaan tersebut. Apa saja sih yang dilakukan saat di perlombaan bird watching. Saat berada pada lokasi atau spot yang ditentukan pastilah kita dengan sabar menunggu dan mengamati daerah sekitar jikalau ada burung yang mampir atau cuma lewat saja. Saat ingin melakukan pengamatan kita perlu memperhatikan beberapa point penting. Menurut buku MacKinnon (kitabnya Birdwatchers) seperti ini tips pengamatan :
1. Mengenakan pakaian yang tidak mencolok, misal warna hijau tua, atau hitam agar tidak mengganggu aktivitas burung. Hindari warna putih
2. Pada saat pengamatan burung lakukan perjalanan yang lambat, berusaha untuk tidak melewatkan obyek satupun karena banyak burung seperti paok, sempidan, anis dan ayam hutan sangat waspada dan dapat mendengar suara asing dari jauh, sehingga akan cepat menghilang sebelum dilihat. Namun perjalalanan cepat dan tidak berisik perlu dilakukan juga ding.. agar burung semacam itu tidak terlewatkan.
3. Bersabar menunggu sambil beristirahat juga hal yang menguntungkan sambil mengamati sekitarnya.
4. Minimalkan pembicaraan dengan teman.
5. Membuat catatan lapangan pada saat pengamatan untuk mencatat hal-hal yang penting seperti waktu pengamatan, lokasi, burung yang masih asing, dan tingkah laku ataupun tentang makanannya.
6. Sebaiknya dalam kelompok birdwatching hanya terdiri dari 2-5 orang saja.

Yang saya soroti dalam hal ini adalah mengenai etika pengamatan saat lomba. Tak sedikit peserta, baik itu yang professional atau bahkan yang masih baru sering sekali melupakan etika pengamatan, stressing pointnya di sini adalah dalam menjaga ketenangan dalam melakukan pengamatan, ambil saja contoh, tim A berangkat dengan peralatan yang lengkap, mulai dari kamera dengan lensa sepanjang laras senapan, atau alat bantu lain yang lengkap, bersamaan dengan itu berangkat juga tim B dengan peralatan seadanya, mungkin cuma binokuler atau kamera digital biasa. Pada suatu kesempatan, hinggaplah seekor burung di atas pohon. Sontak peserta langsung fokus, melakukan pengamatan, dengan lensa yang canggih tim A langsung membidik si burung dan jepret, gambar burung langsung tersimpan di memori mereka. Mereka pun langsung heboh dengan kawan satu timnya membicarakan mengenai hasil jepretan tersebut. Di sisi lain, tim B dengan peralatan seadanya, dan mungkin masih awam juga, berusaha mengamati dan menghafal cirinya utnuk diidentifikasikan. Karena kebisingan dari tim lain, akhirnya burung itu pun kabur. Nah tim B belum menyelesaikan pengamatan, di sini siapa yang dirugikan?

Nampaknaya etika pengamatan perlu ditekankan lagi dalam pelaksanaannya baik bagi pemula maupun yang sudah lama jam terbangnya, terlebih jika pengamatan itu dilaksanakan bersama-sama individu atau kelompok lain (Misalnya dalam perlombaan Birdwatching). Kalau peraturan dan etika dilaksanakan, tak akan ada pihak yang merasa dirugikan, Salam Birdwatcher!.(chol)